EVALUASI UI/UX APLIKASI WAKELOCK DETECTOR [LITE]
Human Computer Interaction



Anggota Kelompok:
Ezra Karuna Wijaya / 2201772176 / LA08

Rico Kumala / 2201829735 / LA08

Rheivant Bosco Theoffilus / 2201744286 / LA08


INTRODUCTION

  1. Latar Belakang

            Pada zaman sekarang teknologi sedang berkembang dengan sangat pesat. Salah satu teknologi yang berkembang adalah teknologi smartphone. Hampir semua orang pada zaman sekarang sangat bergantung dengan smartphone. Orang menggunakan smartphone mereka untuk hampir segala hal, antara lain berkomunikasi, mencari informasi, mencari hiburan, dan lain sebagainya. Karena smartphone sudah menjadi salah satu bagian dari kehidupan sehari - hari kita, maka kita sebagai pengguna perlu merawat smartphone kita dengan baik. Salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk merawat smartphone tersebut yaitu dengan memantau atau memperhatikan kondisi dan penggunaan baterai pada smartphone yang kita gunakan. Salah satu cara kita dapat merawat dan memantau baterai smartphone kita yaitu dengan menggunakan Aplikasi Wakelock Detector [Lite]. Aplikasi Wakelock Detector [Lite] merupakan salah satu aplikasi yang dapat membantu penggunanya dalam memantau keadaan baterai smartphone mereka. Tidak hanya itu pada aplikasi ini para pengguna juga dapat mendeteksi aplikasi mana yang paling sering digunakan dan paling banyak memakan daya baterai smartphone pengguna. Pada zaman yang serba canggih ini, UI dan UX sangatlah penting karena masih banyak orang yang belum terbiasa dengan menggunakan teknologi mungkin akan kebingungan jika tampilan dari sebuah aplikasi atau software yang kompleks atau sulit dimengerti, oleh karena itu memiliki UI yang baik dan mudah dimengerti oleh semua orang maupun yang belum mengerti dan sudah mengerti sangat penting, agar mereka semua dapat menikmati aplikasi yang mereka pakai. Maka kami putuskan bahwa kami akan melakukan pengamatan terhadap Aplikasi Wakelock Detector [Lite] untuk memastikan apakah aplikasi tersebut sudah memiliki UI dan UX yang baik. Selain itu, kami juga akan berusaha untuk meningkatkan tampilan UI dan UX dari aplikasi tersebut, sesuai dengan apa yang kami rasa lebih baik.


  1. Literature Review

    1. Human Computer Interaction
Menurut Carroll (2006) Interaksi manusia-komputer adalah bidang yang menerapkan ilmu kognitif dan desain teknik. Ini berkaitan dengan memahami bagaimana orang lain membuat penggunaan perangkat dan sistem yang menggabungkan komputasi, dan dengan merancang perangkat baru dan sistem yang meningkatkan kinerja dan pengalaman manusia. Hal yang termasuk ke dalam ruang lingkup HCI antara lain adalah User Interface (UI) dan User Experience (UX). UI dan UX merupakan salah satu faktor yang menjadi penting dalam menentukan keberhasilan suatu aplikasi.

    1. 8 Golden Rules by Schneiderman
      Aturan-aturan ini diperoleh dari buku oleh Ben Shneiderman (2016). Shneiderman mengusulkan kumpulan prinsip-prinsip ini yang diturunkan secara heuristik dari pengalaman dan berlaku di sebagian besar sistem interaktif setelah disempurnakan, diperluas, dan diinterpretasikan dengan baik.

Untuk meningkatkan kegunaan aplikasi, penting untuk memiliki antarmuka yang dirancang dengan baik. "8 Golden Rules of Interface Design" Shneiderman adalah panduan untuk desain interaksi yang baik.

1. Strive for consistency.
Urutan tindakan/desain yang ada pada aplikasi harus konsisten. Tampilan yang identik harus digunakan dalam prompt, menu, dan layar bantuan. Selain itu font, warna dan elemen yang lain harus memiliki desain yang konsisten.

2. Enable users to use shortcuts.
Ketika frekuensi penggunaan meningkat, demikian juga keinginan pengguna untuk mengurangi jumlah interaksi dan meningkatkan laju interaksi. Singkatan, tombol fungsi, perintah tersembunyi, dan fasilitas makro sangat membantu pengguna. Sehingga aplikasi yang dimiliki tidak memiliki tahapan yang menyulitkan atau memakan waktu para pengguna.

3. Offer informative feedback.
Untuk setiap tindakan yang dilakukan oleh user sistem harus memberikan tanggapan atau respon oleh aplikasi. Untuk tindakan yang sering dan kecil, responnya bisa sederhana, sedangkan untuk tindakan yang jarang dan besar, responnya harus lebih substansial. Sehingga pengguna tau apakah yang telah dilakukan sudah dioperasikan oleh aplikasi atau belum.

4. Design dialog to yield closure.
Urutan tindakan harus diatur ke dalam kelompok dengan awal, tengah, dan akhir. Umpan balik diberikan ketika pengguna telah melakukan kegiatan sehingga memberikan kepuasan atas pencapaian, rasa lega, sinyal untuk menutup segala aktivitas yang telah dilakukan.

5. Offer simple error handling.
Sebisa mungkin untuk merancang sistem agar pengguna tidak membuat kesalahan serius. Jika kesalahan telah terjadi, maka sistem harus dapat mendeteksi kesalahan dan menawarkan mekanisme yang sederhana dan mudah dipahami untuk menangani kesalahan.

6. Permit easy reversal of actions.
Fitur ini dapat memudahkan para pengguna untuk membatalkan tindakan yang telah mereka lakukan sehingga mengurangi kecemasan pada pengguna, karena pengguna tahu bahwa kesalahan dapat diatasi; dengan demikian mendorong eksplorasi opsi asing. Unit reversibilitas dapat berupa tindakan tunggal, entri data, atau kelompok tindakan lengkap.

7. Support internal locus of control.
Memberikan pengguna rasa memiliki kendali penuh dan bertanggung jawab atas sistem dan bahwa sistem merespons tindakan mereka. Karena sistem dibuat untuk menjadikan pengguna sebagai inisiator tindakan, bukan sebagai responden.

8. Reduce short-term memory load.
Fitur ini memastikan bahwa tampilan aplikasi akan dijaga agar tetap sederhana karena manusia memiliki keterbatasan dalam memproses informasi dalam memori jarak pendek, sehingga karena hal tersebut tampilan beberapa halaman akan dikonsolidasikan, frekuensi gerak jendela dikurangi, dan waktu pelatihan yang memadai dialokasikan untuk kode, mnemonik, dan urutan tindakan.


METHODOLOGY

            Saat menganalisa dari sebuah aplikasi dalam hal UI/User Interface kami menggunakan
            beberapa metode agar mendapatkan hasil yang diinginkan.

  1. Menentukan Aplikasi
Sebelum menganalisa sebuah aplikasi, kami melakukan penentuan dalam hal memilih aplikasi. Kami mengambil beberapa aplikasi yang memiliki UI yang menurut kami kurang bagus, lalu kami tentukan aplikasi mana yang menurut kami cocok untuk di kembangkan dan diperbaiki tampilannya(User Interface). Selain itu alasan kami memilih aplikasi juga apabila review yang diberikan oleh pengguna banyak yang termasuk dalam kategori yang kurang puas.

Kami menentukan aplikasi yang mudah dan simple yaitu “Wakelock Detector Lite” untuk diperbaiki agar lebih mudah digunakan oleh para user. Kami memilih aplikasi tersebut karena aplikasi tersebut memiliki rating yang buruk dan user interface yang kurang bagus serta sulit dimengerti untuk para awam. Maka kami sepakat untuk mencoba memperbaiki aplikasi tersebut.

  1. Menentukan Metode
    Kami memilih metode yang sudah sering dipakai dan cocok untuk menganalisa aplikasi tersebut yaitu 8 Golden Rules dari Shneiderman. Teori ini sangat cocok digunakan untuk menganalisa aplikasi kami, dimana aplikasi yang kami analisa memiliki banyak error sehingga mendapat rating yang buruk dari para user.
    8 Golden Rules dari Shneiderman ini sangat membantu kami dalam memperbaiki aplikasi yang kami pilih, karena metode ini memberikan jalan untuk mengurangi kesalahan dalam aplikasi yang kami pilih.

  1. Melakukan Evaluasi
Kami melakukan evaluasi pada hal-hal yang menurut kami penting bagi kenyamanan pengguna/user. Namun ada beberapa fitur-fitur penting yang tidak dapat kami perbaiki yang dikarenakan kami tidak memiliki orang yang ahli dalam bidang android seperti root-ing android. Hal tersebut merupakan hal yang sangat crucial dalam aplikasi kami karena banyak user yang meminta untuk aplikasi tersebut dapat digunakan oleh seluruh tipe android yang telah di root maupun belum di root.
RESULT
Sebelum diperbaiki























Sesudah Diperbaiki









CONCLUSION

Hasil dari konklusi kami adalah aplikasi Wakelock Detector Lite memiliki banyak sekali kekurangan, mulai dari UI dan fitur-fitur yang tidak sesuai dengan keterangan yang ditulis oleh developer di aplikasi playstore. Seperti, aplikasi yang tidak dapat digunakan walaupun android sudah ter-root dan keakuratan dalam menghitung power dari sebuah baterai yang kurang. Oleh karena itu, kami harap Developer pembuat dari Wakelock Detector Lite tersebut untuk dapat meningkatkan performa dari aplikasi tersebut.


REFERENCES

Carroll, J. M. (2006). Human–computer interaction. Encyclopedia of Cognitive Science.

Shneiderman, B., Plaisant, C., Cohen, M., Jacobs, S., Elmqvist, N., & Diakopoulos, N. (2016). Designing the user interface: strategies for effective human-computer interaction. Pearson.

Comments